Home » , , , , » Kehidupan Petani Sedahkidul

Kehidupan Petani Sedahkidul

Written By Kim Potro on Selasa, 27 Mei 2014 | Selasa, Mei 27, 2014

Cuaca Panas, terik matahari diatas sedahkidul membuat tanaman padi di kawasan tanah begkok desa sedahkidul mulai layu. Deru mesin-mesin pompa air mulai sahut menyahut. Mereka berebut menaikkan air sungai gandong yang mulai mengering untuk mengairi padi yang baru berumur 40 hari. Di sawah sebelah timur Balai desa, tampak sekumpulan ibu-ibu pekerja tani sedang menyiangi gulma pengganggu tanaman padi. Mereka terlihat gembira sambil sesekali tertawa terbahak-bahak ketika yang dibicarakan terdengar lucu.

Sementara itu, Di sebelah utara desa, Sekitar 6 0rang bapak-bapak pekerja sedang menyebar pupuk urea dan ponska di tanah garapan kepala desa. Mereka melakukan pemupukan ke-2 pada padi sekitar 30 HST (hari setelah Tanam). Mereka sadar kalau pemupukan ini terlambat. Namun itu mesti dilakukan karena pengiriman pupuk ke kelompok

tani datangnya terlambat. Begitulah kehidupan sebagian petani di sekitar utara balai desa dengan luas sekitar 20 hektar. Sawah ini dapat ditanami padi 2 kali pertahun. Karena kondisi tanahnya datar dan mereka juga dapat mengandalkan irigasi dari Sungai Gandong.

Namun lain halnya dengan kehidupan petani di sebelah barat pemukinan penduduk. Kondisi tanah di sini berbukit dan lembah. Ada sungai Jambe dan satu buah cek dam di sini. Namun karena terlalu kecil, keberadaanya belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.  Saat ini, mereka sedang mengerjakan tanah garapan untuk persiapan menanam jagung. Terdengar desah mereka yang baru saja gagal panen padi bulan ini.

" Yaaa sukurlah masih bisa panen padi. Kemarin saya dapat 10 karung. Kalau biasanya dapat 20 karung." kata Purwati warga RT.7 yang memiliki garapan seperempat hektar di "puthuk" (sebutan tanah pertanian sebelah barat pemukiman).

Ibu empat anak ini juga menceritakan tentang tanaman padinya yang kekurangan air. Waktu itu ketika musim hujan tiba air kelihatan melimpah. Semua petani di puthuk

mulai membuat persemaian lalu menabur benih. Namun sayang, setelah itu tak ada lagi hujan deras. ladang tetap kering. Setelah bibit padi berumur 70 hari, hujan pun

mulai datang. ladangpun tergenang air. Serentak mereka menanam padinya walaupun bibit sudah berumur 70 hari. setelah padi umur 40 hari, hujan mulai sulit turun. Akhirnya, hasil panen sangat menurun.

Kalau ditanya tentang penerapan panca usaha tani?
Wahh jangan ditanya lagi. Semua lolos.  metode ini biasa disebut "RABI GABAH"
Ra (Rabuk) : Untuk mendapatkan pupuk di sini tidak mudah. Pengiriman ke kelompok tani sering terlambat. Sehingga pemupukan tidak selalu bisa tepat waktu.
Bi (Bibit) : Akibat kondisi air yang tidak menentu, bibit varietas ciherang yang sedang populer di sini.
Ga (Garapan) : Ketika air hujan datang,  petani langsung membajak dan langsung tanam. Tak ada lagi istilah rendam lahan maupun Metode SRI (Sistem Rice Intensifikasi).
Ba (Banyu)   : Air !!!. Kondisi air ini yang memerlukan tindakan khusus. Air selama ini selalu tergantung dari curah hujan, membuat hasil panen tidak menentu.
H (Hama)   : Hama Wereng, Potong leher dan burung emprit yang menjadi momok menakutkan di sini. Tentu saja butuh bimbingan untuk pengendaliannya.

Mengentas Kebutuhan Air

Pada siang itu (24/05/2014) di lahan pertaniannya, Kepala Dusun (KASUN) Sedahkidul Ahmad Patekun mengutarakan pemikiran untuk memaksimalkan irigasi di sedahkidul. Ia berharap agar pemerintah membendung sungai Gandong di daerah sedah kidul. Airnya dapat digunakan sebagai irigasi. Pada musim kemarau seperti saat ini, bendungan itu mengisi cek dam di Kali Jambe dan embung-embung pertanian. Dari Cek Dam Kali Jambe dan embung itu, air dapat digunakan untuk mengairi lahan pertanian di daerah puthuk. Itulah salah satu cara kebutuhan air di puthuk dapat terpenuhi.

Kelompok Tani dan Pelatihan

Menurut Kepala Dusun (KASUN) Sedahkidul Ahmad Patekun(45), terdapat 3 kelompok tani dan 1 Gapoktan. Mereka adalah Kelompok tani Setyo Bakti, Setyo Budi dan Budi luhur kemudian digabung menjadi Gapoktan Setyo Bakti. Kegiatannya sebagai penyalur pupuk dan wadah pemberian bimbingan dan pelatihan. Berbagai program bimbingan dan pelatihan telah diberikan melalui Sekolah Lapangan sejak tahun 2012. Bahkan kelompok ini sudah masuk pada kategori Kelompok Tani Mandiri. Mereka telah mendapatkan bekal metode pengolahan lahan, pembuatan pupuk kompos dari bahan organik dan pembuatan obat-obatan untuk pengendalian hama secara organik pula.

Ayah 2 anak yang juga Ketua Gapoktan ini berharap bahwa petani sedahkidul juga menjadi petani sayuran. Jadi tidak hanya mengandalkan Padi dan jagung. Menurut perhitungannya, bertani sayuran lebih menguntungkan dibandingkan padi atau jagung. Selain itu, ia juga berharap agar petani tidak tergantung pada pupuk kimia. Petani

harus dapat beralih ke pertanian organik atau setidaknya semi organik.Untuk beralih ke petani tanaman organik, desa harus didukung kelompok ternak sapi yang terkoordinir dalam satu wadah. Sehingga kotoran ternak ini nantinya

dapatdigunakan sebagai bahan dasar pembuatan kompos untuk pengganti pupuk kimia. Untuk meningkatkan pengetahuan dan motivasi, petani harus diberikan pelatihan lebih lanjut dan study banding ke daerah yang sudah berhasil menerapkan sistem bertani secara organik.

Penulis : Rosidin - Kimsepo

0 komentar:

Posting Komentar

VLOG SENDANG POTRO

APBDesa 2018 Desa Sedahkidul

Terpopuler

 
Support : Sedahkidul | Purwosari | Bojonegoro
Copyright © 2014. KIM Sendang Potro - All Rights Reserved