Manganan Sendang Potro

Written By Kim Potro on Minggu, 15 Juni 2014 | Minggu, Juni 15, 2014

Sedahkidul - Warga sedahkidul menyelenggarakan sedekah bumi di pelataran Sendangpotro pada Jum,at pon (13/06/2014). Mereka melaksanakan ritual itu untuk melestarikan budaya nenek moyang dengan membawa tumpeng dan makanan khas setempat untuk dibagikan pada semua yang hadir di tempat itu. Masyarakat setempat menyebutnya dengan manganan.

Sejak dahulu, Lokasi Sendang Potro selalu digunakan sebagai tempat untuk manganan bagi warga sedahkidul. upacara ini dilakukan tiap tahun setelah usai panen raya. Masyarakat juga menyebutnya dengan sedekah bumi sebagai ungkapan rasa syukur setelah memanen hasil buminya.

Sekitar pukul 10.00 WIB, masyarakat sedahkidul berbondong-bondong menuju sendang potro dengan membawa makanan dalam wadah seperti Jodang, rinjing, bakul dan tas. Ada yang memakai sepeda motor, namun sebagian besar berjalan kaki menyusuri pematang sawah dan jalanan desa. Sehingga membentuk deretan panjang. Deretan ini memperlihatkan kerukunan masyarakat yang damai dan tentram.

Makanan yang dibawa warga dalam upacara ini adalah nasi tumpeng dengan lauk ayam panggang. Jajanan khas daerah setempat ada onde-onde, krecek, jadah, kucur, jenang, opak, wajik, tape, mendhut, nogosari, bongko, manco, gapit dan sagon. Ada pula buah-buahan dari hasil pertanian seperti pisang, salak, apel, jeruk dan sawo.

Prosesi Manganan

Setelah warga berkumpul di pelataran sendang potro, mereka berkumpul dan duduk menunggu acara dimulai. Ada yang mengunakan alas tikar, sak gelaran ada pula yang duduk beralas rumput saja. Mereka bergerombol duduk dibawah pohon mencari tempat yang teduh.

Sekitar pukul 10.30 WIB, acarapun dimulai. Tumpeng dan makanan dibagi dalam keadaan masih tertutup dan diletakkan pada tiap-tiap orang yang bergerombol tadi. Setelah masing-masing kelompok mendapat tumpeng, acara dibuka oleh Jogoboyo Sedahkidul Suliman.

Dalam sambutannya, Suliman mengajak warga untuk meluruskan niat syukuran itu. Bersyukur atas nikmat dari Allah SWT dengan berbagi sodakoh karna Allah. Selain itu, ia juga mengumumkan bahwa setelah manganan di sendang potro ada pula manganan di "Makaman Kare." Yaitu acara tahlilan di kuburan Sedahkidul pada Kamis wage (19/06/2014) waktunya setelah ashar. Kemudian pada malam harinya dilanjutkan dengan syukuran di balai desa sedahkidul.

Acara manganan dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Suliman. Selesai doa, tumpeng dibagi pada tiap orang. Prosesipun usai, sebagian warga kembali ke rumah.


Pertunjukan Wayang Thengul.

Selesai prosesi manganan, acara di pelataran sendang potro berlanjut dengan pertunjukan wayang thengul. Dalang Ki Suwarno dari Desa Sumberrejo kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro dengan mengambil cerita  Sambeng dan Besah Pecah. Yaitu tentang sejarah pecahnya peperangan antara warga Sambeng dan Besah kecamatan Kasiman Bojonegoro.

Diceritakan tentang asal mula rombongan pengantin dari desa Sambeng dan Besah yang berebut melaksanakan prosesi pernikahan lebih dulu. Dari rebutan waktu ini terjadilah perang warga antara Besah dan Sambeng. Karena luasnya pengaruh pertikaian ini, tak hanya warganya. Rumput diperbatasan Sambeng-Besah pun ikut terpisah. Hingga sekarang, warga sekitar percaya warga Sambeng-Besah tak boleh menjalin pernikahan. Yang lebih parah, pengantin dari daerah lain juga tak boleh melewati desa Sambeng dan Besah.

Sekitar pukul 16.00 WIB pertunjukan wayang selesai dan dilanjutkan pada malam harinya di Balai Desa Sedahkidul. Di balai desa ini, malam pertunjukan makin meriah. Pertunjukan wayang thengul di pancarkan langsung dengan Radio Komunitas pada gelombang 89,5 FM.


Ditulis Oleh : Rosidin-Kimsepo

0 komentar:

Posting Komentar

VLOG SENDANG POTRO

APBDesa 2018 Desa Sedahkidul

Terpopuler

 
Support : Sedahkidul | Purwosari | Bojonegoro
Copyright © 2014. KIM Sendang Potro - All Rights Reserved