Home » , , » Bambu Melimpah, Warga Butuh Pelatihan

Bambu Melimpah, Warga Butuh Pelatihan

Written By KIM Sendang Potro on Kamis, 30 April 2015 | Kamis, April 30, 2015

Sedahkidul, Purwosari - Panas matahari hari ini, Kamis (30/4) masih menyengat kepala. Setelah seharian bekerja, aku pulang menyusuri jalanan berpaving menuju rumah tinggalku. Rumahku ada di RT.7 RW.2 Desa Sedahkidul Kecamatan Purwosari Kabupaten Bojonegoro. Aku meyusuri tepi jalanan ini memanfaatkan perlindungan pohon bambu dari sengatan matahari.

Memang, sepanjang jalan menuju rumahku terdapat rumpun bambu yang berjajar sepanjang 200 meter. Bukan hanya di sepanjang jalan ini, di belakang rumahku juga banyak rumpun bambu yang tumbuh di sepanjang tepian Sungai Kali Gandong. Jadi keberadaan kampungku ini, terlindung dari rumpun-rumpun bambu (pring-bahasa setempat).

Menurut warga setempat, banyak manfaat yang diperoleh dari rumpun bambu di kampung ini. Rumpun bambu yang ditepi sungai digunakan untuk menahan erosi tanah dari kikisan arus Sungai Kali Gandong. Sedangkan yang di jalan masuk kampung ini, digunakan untuk penangkal angin ribut saat musim penghujan datang.

Ada banyak jenis bambu di sini. Warga setempat menyebutnya Pring Ori, Pring Petung dan Pring Apus. Oleh warga, Pring Ori digunakan untuk perkakas rumah seperti kerangka dan dindingnya. Pring Petung dimanfaatkan rebungnya untuk sayuran. Sedangkan Pring Apus dimanfaatkan untuk keranjang tempat rumput pakan ternak.

"Omahku soko pring, kepange ben taon salin (rumahku terbuat dari bambu, dindingnya dari anyaman bambu yang harus diganti tiap tahun-red)," kata Mari (44) warga Sedahkidul.

Saat ini, di kampung kami banyak yang menggunakan kepang dari Pring ori untuk dinding dan plafon rumah. lebih dari 12 warga sedahkidul yang menggantungkan mata pencahariannya dari pembuatan kepang (anyaman bambu). Dalam seharinya mereka mampu membuat 2 lembar kepang yang dijual dengan harga 25 ribu rupiah. Kepang ini selalu habis terjual di pasar terdekat. Namun kehidupan pengrajin ini masih di bawah sejahtera.

"Kawit Jamane Bapak, aku wis gawe kepang. Tapi mung cukup nggo mangan, (sejak masa ayahku, saya sudah membuat anyaman bambu. Tapi hasilnya hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari-red)" kata Jarmin (42) pembuat kepang asal Sedahkidul.

Ia berharap agar pemerintah memberi perhatian kepada pengrajin kepang untuk diberi pelatihan tentang pembuatan industri dari bahan bambu. Sehingga ketrampilan yang ia miliki bukan hanya membuat kepang saja. namun ada keahlian lain, sehingga dapat meningkatkan perekonomiannya.

Baru-baru ini, Pemerintah Desa Sedahkidul melalui BUMDES berencana meningkatkan perekonomian warganya melalui pemanfaatan bambu untuk industri tusuk sate dan tusuk gigi. Namun usaha ini masih dalam rencana. Implementasinya tentu butuh dukungan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan instansi terkait lainnya.

"Ya benar, memang kami ingin memanfaatkan bahan baku bambu ini untuk tusuk sate dan tusuk gigi. Namun demikian, kami juga mengharapkan pelatihan pembuatan tusuk gigi dan tusuk sate yang dilakukan oleh pemerintah," kata M Choirul Huda, Kepala Desa Sedahkidul saat ditemui KIMSPot di kantornya, Kamis (30/4). (KIMSPot)

0 komentar:

Posting Komentar

VLOG SENDANG POTRO

APBDesa 2018 Desa Sedahkidul

Terpopuler

 
Support : Sedahkidul | Purwosari | Bojonegoro
Copyright © 2014. KIM Sendang Potro - All Rights Reserved