Home » , » Sulap dan Nyetrum Ciri Khas Reog Sedahkidul

Sulap dan Nyetrum Ciri Khas Reog Sedahkidul

Written By KIM Sendang Potro on Jumat, 10 April 2015 | Jumat, April 10, 2015

Purwosari - Sanggar Seni Reog Sedahkidul sampai saat ini masih terus melestarikan seni reognya. Pertunjukan Reog ini masih sering tampil untuk acara penyambutan tamu kehormatan, sedekah bumi, pernikahan, khitanan dan ulang tahun.

Reog Sedahkidul ini dipimpin oleh Sutikno (38) warga RT.01 Desa Sedahkidul Kecamatan Purwosari Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Reog ini menjadi hiburan yang disukai masyarakat karena memiliki ciri khas tersendiri. pertunjukannya selalu menyuguhkan hal-hal diluar nalar manusia dan berbau mistis.

Pada awal pembukaan acara, selalu menampilkan tarian khas reog Ponorogo. Karena Reog ini mengikuti garis keturunan kesenian reog Ponorogo. Yaitu pertunjukan atraksi tari dadak merak, tari topeng dan jathilan seperti yang dilakukan para leluhur pemain reog ponorogo zaman dalulu. Karena reog selalu identik dengan Ponorogo dan Ki Ageng Kutu.

Seperti yang di tulis Wikipedia.org, cerita tentang asal usul Reog dan Warok berasal dari pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Tiongkok. Ia murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup dan melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan.

Di Perguruannya, ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda dengan ilmu kekebalan diri dan ilmu kesempurnaan. Ia berharap bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog.

Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu merupakan "sindiran" kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya.

Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya. Pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam.

Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.

Seiring perkembangan jaman, cerita yang ditampilkan terus bertambah. Seperti yang dilakukan reog sedah kidul, kelompok ini menambahkan Atraksi sulap dan 'nyetrum'. yaitu jenis pertunjukan akrobat yang menampilkan perbuatan luar biasa layaknya orang kesurupan. seperti orang makan dedak, makan talas mentah bahkan makan daging ayam mentah. Atraksi inilah yang menjadi ciri khas Reog Sedahkidul.(KIMSPot)

1 komentar:

VLOG SENDANG POTRO

APBDesa 2018 Desa Sedahkidul

Terpopuler

 
Support : Sedahkidul | Purwosari | Bojonegoro
Copyright © 2014. KIM Sendang Potro - All Rights Reserved