Home » » Lima Wartawan Asal Bojonegoro yang Menginspirasi Indonesia

Lima Wartawan Asal Bojonegoro yang Menginspirasi Indonesia

Written By KIM Sendang Potro on Rabu, 23 Agustus 2017 | Rabu, Agustus 23, 2017

Bojonegoro, Lima anak muda (dulu) asal Bojonegoro, Jawa Timur ini, semuanya pernah menjadi penjaga gawang Harian Sore Surabaya Post di daerah. Lantas, dsekarang mereka dimana? 

5 Wartawan Asal Bojonegoro yang Menginspirasi Indonesia
Redaksi KIM Sendang Potro bersama detakpos.com akan memberikan cerita sedikit tentang mereka, dimulai dari yang pertama bergabung di Surabaya Post.

Inilah ceritanya ...

Budiono Darsono

Mengawali debutnya sebagai reporter Surabaya Post, ditempatkan di Bojonegoro. Beberapa tahun kemudian, bergabung di Majalah Tempo, liputan Jakarta. Dari Tempo, dia lantas bergabung di HU Berita Buana manajemen baru. Dari Berita Buana, kemudian bersama Erros Djarot mendirikan Tabloid Detik, sampai Detik dibredel. 

Kemudian, dia mendirikan media online pertama di Indonesia, detikcom, dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Utama. Hengkang dari detikcom, dia lantas mendirikan Kumparan.com dan duduk sebagai Presiden Komisaris. Kini, dia hidup bahagia bersama keluarga, di Jakarta.

Bambang Soen

Menjadi reporter Suarabaya Post beberapa bulan kemudian, ditempatkan di wilayah Tuban. Kemudian ikut bergabung di Berita Buana, wilker Jawa Timur. Tidak lama bergabung di Berita Buana, kemudian hengkang ke HU Republika. Di harian ini, awalnya ditempatkan di Surabaya. Kemudian ditempatkan di Jakarta, Semarang dan terakhir di Yogyakarta.

Menjelang Pemilu 1999, dunia wartawan ditinggalkan dan masuk ranah politik. Kini tinggal di kota kelahirannya, Bojonegoro.

Zed Abidien

Anak Padangan ini mengawali debutnya di Surabaya Post dengan wilayah liputan Ngawi. Dari Surabaya Post kemudian bergabung dengan Majalah Tempo, di Biro Jawa Timur. Abid, demikian kita memanggil, menjadi "juara bertahan" di Tempo, hingga memasuki masa pensiun.

Kini, bersama keluarganya menikmati masa tua di rumahnya yang asri di Mojokerto.

Djajus Pete

Orang mengenalnya sebagai seorang Begawan Sastra Jawa. Padahal pensiunan guru SD ini juga seorang jurnalis handal. Sebelum bergabung di Surabaya Post, Djajus malang melintang sebagai wartawan di sejumlah media.

Di usianya yang mendekati angka 70 ini, karya-karya sastranya masih ditunggu banyak penikmat sastra. Cerkaknya sangat bernas. Sayangnya. Mbah Djajus yangg sejak awal hidup bahagia bersama keluarganya di Kecamatan Purwosari, Bojonegoro, agak malas menulis. 

"Saya sedang mengembangkan sastra lisan" katanya memberi alasan.

Slamet Agus Sudarmojo

Diantara mereka, Aguk, demikian dia dipanggil, usianya paling muda. Dia orang paling akhir, diantara kami, yang pergi meninggalkan Surabaya Post. Bahkan, Aguk ikut melihat sampai akhir, perjalanan Surabaya Post.

Kini, selepas dari Surabaya Post, masih tetap menekuni dunia jurnalistik. Dan, Kantor Berita Antara adalah pilihannya. Di lingkungan para wartawan di Bojonegoro, Aguk sering dipanggil Mbah Aguk, karena keseniorannya. 

"Saya masih cinta Bojonegoro. Makanya sampai kini, tetap tinggal di Bojonegoro," ucapnya.

Masih ada satu lagi wartawan dari Bojonegoro, yang bergabung di Surabaya Post. sebut saja namanya Yusuf Susilo Hartono, yang kini tinggal di Jakarta, sejak puluhan tahun silam.

"Sayangnya, adinda YSH ini jarang berkomunikasi dengan kami. Jadi, kami tidak begitu hafal perjalanan jurnalis nya usai dari Surabaya Post. Yang kami ketahui, dia kini masuk jajaran Pengurus PWI Pusat" tambahnya.

Demikian sedikit cerita mengenai lima wartawan asal Bojonegoro yang menginspirasi dan berkarya untuk Indonesia. Semoga menginspirasi generasi muda di Bojonegoro untuk selalu berkarya dan mewarnai tanah air Indonesia.

Bagi kamu warga Desa Sedahkidul yang ingin belajar menjadi jurnalis/wartawan, yuk merapat bersama KIM Sendang Potro (red/KIMSPot)

2 komentar:

VLOG SENDANG POTRO

APBDesa 2018 Desa Sedahkidul

Terpopuler

 
Support : Sedahkidul | Purwosari | Bojonegoro
Copyright © 2014. KIM Sendang Potro - All Rights Reserved